Istilah Melayu adat menggambarkan praktik kebiasaan dan perilaku sosial yang diharapkan. Di Brunei, adat istiadat diekspresikan secara berbeda oleh puak Brunei, Belait, Bisaya, Dusun, Kedayan, Murut, dan Tutong, serta menurut distrik, keluarga, dan acara. Ragam bahasa Melayu lokal dan bahasa masyarakat menambah perbedaan. Tradisi tahunan memadukan kebiasaan kenegaraan, keluarga, dan sosial. Hari Nasional berlangsung pada 23 Februari dan biasanya melibatkan persiapan sekitar dua minggu melalui sekolah, pelayanan publik, organisasi swasta, dan acara distrik. Hari Keputeraan Sultan diperingati pada 15 Juli. Hari Raya Aidilfitri mengikuti kalender lunar dan umumnya mencakup pertemuan keluarga, kunjungan kepada orang yang lebih tua, saling meminta maaf, dan Rumah Terbuka, ketika keluarga menerima kerabat, tetangga, teman, serta pengunjung. Tahun Baru Imlek dan Natal tetap menjadi perayaan tahunan dan sosial yang penting bagi komunitas masing-masing. Tanggal lunar perlu dikonfirmasi melalui kalender resmi tahunan. Kebiasaan keluarga paling terlihat dalam pernikahan. Rangkaian adat dapat mencakup berjarum-jarum, berbedak atau berbedak mandi, berinai, akad nikah, bersanding, dan doa selamat, tetapi keluarga menentukan cakupan dan urutannya. Dalam berbedak, kerabat dekat mengoleskan pasta bedak ke tangan pasangan; saat bersanding, pasangan duduk di pelaminan seremonial. Akad nikah memiliki dimensi keagamaan dan hukum yang terpisah, sehingga praktik adat tidak boleh dianggap sebagai persyaratan hukum universal. Pantun adalah bentuk puisi Melayu empat baris dengan pola rima ABAB. Pantun dapat mengungkapkan kasih sayang, nilai keluarga, pesan masyarakat, dan nasihat sosial melalui bahasa tidak langsung dan sopan. Para tetua, pemimpin adat, sekolah, lokakarya, kompetisi, dan media semuanya ikut mewariskannya. Lagu dan tarian tradisional juga berbeda menurut masyarakat dan acara; bentuk yang terdokumentasi mencakup Dong Dong Oma, Nakhoda Manis, Adai-Adai, joget, syair, sejak, dan mukun. Pentarama, yang dibuat Departemen Informasi pada 1988, menggunakan pertunjukan panggung untuk komunikasi publik dan pewarisan modern, bukan sebagai satu ritual turun-temurun. Pakaian tradisional mencakup Baju Kurung untuk perempuan dan Baju Cara Melayu untuk laki-laki, sering dikenakan dengan sinjang atau samping serta songkok. Kain Tenunan Brunei merupakan tekstil tenun formal atau untuk perayaan, sedangkan kebaya digunakan dalam suasana kasual, formal, perayaan, dan seni pertunjukan. Pengetahuan menenun secara tradisional diwariskan dari ibu kepada anak perempuan dan kini juga diajarkan melalui sekolah serta lokakarya. Kerajinan yang didukung melalui Brunei Arts and Handicraft Training Centre mencakup pembuatan perahu, kerajinan perak, pengerjaan perunggu dan kuningan, tenun kain, anyaman tikar dan keranjang, ukiran kayu, serta pembuatan songkok. Kampong Ayer di Brunei-Muara tetap terkait dengan masyarakat rumah panggung, taksi air, pembuatan perahu, tenun, dan pengerjaan logam. Temburong memiliki pertunjukan budaya dan demonstrasi kerajinan Murut serta Lun Bawang yang terdokumentasi. Tutong dan Belait memiliki program budaya tingkat distrik dan keragaman etnis, tetapi bukti terkini tidak menetapkan satu kebiasaan eksklusif tingkat distrik untuk masing-masing distrik. Museum, pameran, Arts and Handicraft Training Centre, sekolah, pemagangan keluarga, kelompok masyarakat, dan program pemuda menyediakan akses pembelajaran budaya. Lokakarya bergantung pada kapasitas, jadwal, dan biaya penyedia, sedangkan kebiasaan sehari-hari biasanya bergantung pada undangan keluarga atau masyarakat. Upacara kerajaan dan negara mengikuti adat serta protokol resmi yang dikelola Jabatan Adat Istiadat Negara; akses dapat bergantung pada undangan, pendaftaran, status, atau permohonan yang disetujui. Tidak ada kewajiban hukum umum untuk menjalankan ritual adat. Pengunjung dan peserta sebaiknya mengikuti keinginan tuan rumah, berpakaian sopan di tempat formal atau keagamaan, meminta izin sebelum mengambil foto, dan menaati aturan lokasi. Kementerian Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga menjalankan upaya perlindungan budaya melalui Bagian Kebudayaan dan Kesenian serta Inventori Warisan Budaya Takbenda Nasional. Departemen Museum Brunei, lembaga budaya, kelompok masyarakat, dan organisasi nonpemerintah mendukung dokumentasi, pelatihan, dan pewarisan. Desain modern dan format pengajaran baru menunjukkan adaptasi, bukan sekadar kemunduran, meskipun kebiasaan dapat melemah ketika konteks ritual dan kontak dengan praktisi yang masih aktif berkurang.
Tradisi di Brunei
Tradisi Brunei mencakup praktik turun-temurun terkait kehidupan keluarga, perayaan tahunan, pakaian, musik, kerajinan, dan masyarakat lokal. Akar budaya Melayu, Islam, dan Melayu Islam Beraja (MIB), falsafah negara, membentuk budaya publik, sementara tujuh puak mempertahankan ekspresi yang khas. Keluarga, masyarakat, sekolah, dan lembaga budaya mewariskan praktik ini; pewarisan dalam kehidupan sehari-hari tetap terutama bersifat informal.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

