Hidrokarbon menyumbang sekitar 39% produk domestik bruto Guinea Khatulistiwa, 76% ekspor, dan sekitar 86% pendapatan negara. Produksinya padat modal, sehingga besarnya peran sektor ini dalam perekonomian hanya menciptakan relatif sedikit pekerjaan. Penurunan sektor hidrokarbon, kontraksi ekonomi pada 2025, inflasi, dan rendahnya investasi swasta terus menekan lapangan kerja. Kegiatan nonhidrokarbon mencakup kayu, perikanan, minuman, manufaktur, konstruksi, perdagangan, dan jasa lainnya. Pertanian dan jasa lingkungan secara bersama-sama mencakup sekitar 33% angkatan kerja. Agenda pembangunan AGE 2035 memprioritaskan kegiatan biru seperti perikanan, jasa kelautan, dan pariwisata bahari; kegiatan hijau seperti pertanian, peternakan, kehutanan, dan keberlanjutan lingkungan; ekonomi digital; pariwisata; serta ekonomi energi kuning. Inisiatif BANGE-PNUD pada 2026 juga berfokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah, agribisnis, kegiatan hijau, biru, digital, dan sirkular, pelatihan terapan, seleksi, dan pembiayaan. Inisiatif-inisiatif ini adalah proyek percontohan dan prioritas kebijakan, bukan hasil ketenagakerjaan nasional yang terukur. Pada kuartal pertama 2026, produk domestik bruto tumbuh 1,7% dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi turun 4,1% dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Pasar Kerja di Guinea Khatulistiwa
Pasar kerja Guinea Khatulistiwa menggabungkan ekonomi hidrokarbon yang padat modal dengan kegiatan nonhidrokarbon yang berkembang, seperti jasa, manufaktur, pertanian, dan perikanan. Survei rumah tangga luas terbaru mencatat pengangguran sebesar 13,1%, sementara kurang dari 20% pekerjaan bersifat formal. Pekerjaan di sektor publik menyediakan sekitar tiga perempat pekerjaan formal, tetapi lowongan yang terbatas, ketidakcocokan keterampilan, dan transisi hidrokarbon membuat akses tidak merata.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

