Budaya Jamaika mencakup tradisi formal, berbasis masyarakat, dan informal, bukan satu sistem nasional yang seragam. Jamaica Cultural Development Commission (JCDC) mendukung perayaan nasional, Heritage Week, Festival of the Arts, dan kompetisi Traditional Folk Forms. Institute of Jamaica, termasuk African Caribbean Institute of Jamaica dan Jamaica Memory Bank, meneliti serta mendokumentasikan tradisi lisan, pelestarian budaya Afrika, dan musik Jamaika. Jamaica National Heritage Trust terutama melindungi monumen dan warisan material lainnya; lembaga itu tidak menggantikan praktik budaya yang dipimpin masyarakat. Tradisi tahunan mencakup lagu Natal, kunjungan ke gereja dan masyarakat, pertemuan keluarga, Gran' Market pada malam Natal di kota besar, serta Jonkonnu, yang juga disebut John Canoe, khususnya sejak Hari Natal hingga Boxing Day dan Hari Tahun Baru. Jonkonnu memadukan musik, tarian, kostum, dan sosok bertopeng seperti Raja, Ratu, Kepala Sapi, Kepala Kuda, Pitchy Patchy, Perempuan Hamil, Prajurit, Wild Indian, dan Iblis. Peringatan Emansipasi dimulai sekitar 31 Juli dan 1 Agustus, sedangkan perayaan Kemerdekaan berlanjut menuju 6 Agustus. Jamaica Festival mencakup konser, peragaan, cerita, pasar kerajinan dan hasil bumi, serta kompetisi seni pertunjukan. National Heritage Week berlangsung selama minggu sebelum Senin ketiga pada Oktober. Reggae Month dan festival reggae lainnya menyediakan ruang modern untuk pewarisan dan pertunjukan musik. Tradisi siklus kehidupan menghubungkan musik, cerita, dan dukungan masyarakat dengan kelahiran, perkawinan, berkabung, dan mengenang. Nine-night, yang juga disebut Ni Nite atau Wake, adalah pertemuan berkabung selama sembilan malam yang dapat mencakup musik mento, permainan lingkaran, cerita Anansi, teka-teki, nyanyian, dan tarian. Dinki Mini terutama terkait dengan St. Mary, Gerreh dengan Jamaika barat, dan Ettu dengan Hanover; Ettu dapat muncul pada pernikahan, perayaan, dan pertemuan nine-night. Kumina dapat mengiringi malam berkabung, pemakaman, dan peringatan serta juga muncul dalam konteks kelahiran atau syukur. Keluarga dan masyarakat menentukan bentuknya, sementara keyakinan serta aturan komunitas keimanan terkait tetap penting. Pewarisan lisan berlangsung melalui rumah tangga, keluarga, sekolah, gereja, kelompok masyarakat, dan diaspora Jamaika. Cerita Anansi atau Anancy berasal dari tradisi Akan. Lagu, peribahasa, teka-teki, dan Kreol Jamaika, yang umum disebut Patois, membawa bahasa serta pengetahuan budaya lintas generasi. Louise Bennett-Coverley, yang dikenal sebagai Miss Lou, berperan besar melestarikan dan memperkenalkan Patois, cerita rakyat, lagu, puisi, dan teater. Permainan lingkaran, cerita duppy, dan kepercayaan sehari-hari juga tetap menjadi bagian pewarisan keluarga dan masyarakat. Musik merupakan tradisi sekaligus cara mengomentari masyarakat, mengekspresikan duka atau melepaskan emosi, serta memuji Tuhan. Reggae berkembang antara lain dari mento, ska, rocksteady, dan dub, dengan akar kuat di Kingston barat; dancehall merupakan perkembangan berikutnya. Bentuk musik tradisional mencakup Kumina, Congo, Revival, Burru, Tambu, Maroon Dance, Ettu, Gerreh, Dinki Mini, dan Jonkonnu. Instrumen dan bahan pembuat bunyi dapat mencakup drum, drum gemerincing, fife atau rekorder, shaka, parutan, tongkat katta, tamboo, benta, dan abeng. Kingston menjadi UNESCO Creative City of Music sejak 2015. UNESCO, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga memasukkan warisan Maroon Moore Town, musik reggae Jamaika, dan ziarah ke Watt Town ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan ini mendukung visibilitas dan pelindungan, tetapi tidak menjadikan setiap praktik masyarakat sebagai pertunjukan publik. Tradisi yang terkait agama memerlukan pembedaan cermat. Revival, Kumina, dan Kromanti Play dapat dibahas sebagai bentuk budaya dalam konteks ini bila fokusnya pewarisan, musik, tarian, pakaian, atau praktik masyarakat. Tulisan tentang teologi, aturan ibadah, atau denominasi termasuk topik agama. Ziarah ke Watt Town berlangsung pada Kamis pertama bulan Maret dan mencakup kelompok musik dari Jamaika, Jerusalem Schoolroom, lagu dan tarian ritual, pakaian berwarna-warni, segel, serta persembahan seperti buah, bunga, tanaman obat, dan makanan. Pengakuan UNESCO menyangkut praktik dan pewarisannya, bukan agama secara keseluruhan. Praktik regional beragam dan saling tumpang tindih, bukan terbatas secara eksklusif pada satu paroki. Contohnya mencakup Kumina di St. Thomas, Bruckins Party di Portland, Dinki Mini di St. Mary, Revival di St. Ann, Kingston dan St. Andrew, St. Catherine dan St. Elizabeth, Burru di Clarendon, Maroon Dance di St. Elizabeth, Ettu di Hanover, Tambu di Trelawny, serta Gerreh dan Jonkonnu di Westmoreland. JCDC mencantumkan bentuk tradisional secara nasional, tetapi cara bentuk tersebut diajarkan, dipertunjukkan, dan dipahami sering bergantung pada paroki, keluarga, atau masyarakat tertentu. Warisan Maroon di Moore Town, Jamaika timur, di kawasan Blue and John Crow Mountains, mencakup Kromanti Play, upacara leluhur, nyanyian, tarian, drum khas, bahasa Kromanti, ramuan obat, abeng, tanah perjanjian komunal, dan struktur politik lokal. Tekanan ekonomi, migrasi, serta penentangan sebelumnya dari misionaris telah memengaruhi pewarisannya. Maroon Dance di St. Elizabeth merupakan konteks pertunjukan regional yang terpisah dan tidak boleh dianggap sama dengan praktik Moore Town. Tradisi kerajinan mencakup ukiran kayu, keranjang anyaman, topi jerami, tembikar, dan keramik. Lokakarya, pasar perajin, demonstrasi, serta produksi lokal informal menghubungkan keterampilan ini dengan bahan untuk pakaian, instrumen, penggunaan rumah tangga, dan cendera mata. Clonmel Potters di St. Ann adalah salah satu contoh lokal yang terdokumentasi. Jamaika tidak memiliki satu sistem biaya nasional, struktur perizinan, atau kualifikasi profesional yang seragam untuk semua kerajinan tradisional. Harga, pengaturan pengajaran, dan akses pasar berbeda menurut perajin, lokakarya, masyarakat, dan acara. Acara publik JCDC, festival, museum, dan kompetisi dapat gratis atau memiliki aturan khusus acara. Pertemuan nine-night, praktik Revival, Kumina, Maroon, dan keluarga yang bersifat privat umumnya bergantung pada undangan dan harapan masyarakat. Unsur sakral atau sensitif tidak boleh diperlakukan sebagai hiburan yang bebas diakses. National Policy for Culture, Entertainment and Creative Economy 2025–2035 adalah Green Paper dan kerangka kebijakan yang menekankan pelindungan, partisipasi, pemberdayaan masyarakat, kekayaan intelektual, dan kondisi yang lebih baik bagi pelaku budaya; status penerapannya perlu diperiksa untuk periode terkait. Jamaica National Heritage Trust Act memberikan pelindungan formal terutama bagi monumen dan situs warisan yang dilindungi. Tradisi Jamaika berubah melalui kelompok Jonkonnu yang lebih kecil, pertunjukan sekolah dan festival yang dipentaskan, dokumentasi digital, migrasi, dan pewarisan diaspora. Sebagian praktik dipertahankan sebagian melalui kegiatan masyarakat, sedangkan yang lain mengalami keterlibatan sekolah atau kaum muda yang lebih rendah. Integritas budaya, persetujuan masyarakat, dan konteks praktik penting saat tradisi direkam, diajarkan, diadaptasi, atau disajikan kepada publik.
Tradisi di Jamaika
Tradisi Jamaika adalah praktik budaya hidup yang diwariskan antargenerasi melalui perayaan masyarakat, cerita lisan, musik, tarian, kebiasaan keluarga, ekspresi agama-budaya, pakaian, dan kerajinan. Tradisi ini mencakup acara tahunan seperti Jonkonnu, perayaan Emansipasi dan Kemerdekaan; praktik siklus kehidupan seperti berkabung sembilan malam; serta bentuk regional seperti Kumina, Dinki Mini, Gerreh, dan tradisi Maroon. Akses, makna, dan partisipasi berbeda menurut masyarakat, keluarga, praktik keimanan, dan acara.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

