Hubungan romantis di Liberia adalah kemitraan berdasarkan persetujuan, yang dapat tetap informal, melibatkan tinggal bersama, atau berujung pada pernikahan. Dalam Liberia Demographic and Health Survey 2019–20, 26% perempuan usia 15–49 tahun menikah, 27% tinggal bersama pasangan, 7% bercerai atau berpisah, dan 2% menjanda; angka laki-laki masing-masing adalah 22%, 28%, 6%, dan 1%. Sebanyak 44% perempuan dan 39% laki-laki dalam kelompok usia tersebut belum pernah menikah, sementara 52% perempuan dan 50% laki-laki menikah atau tinggal bersama. Angka ini mencakup 15 county di Liberia dan dapat berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Survei menemukan usia median hubungan seksual pertama 16,1 tahun bagi perempuan dan 18,5 tahun bagi laki-laki, serta usia median pernikahan atau hubungan pertama 21,2 tahun bagi perempuan dan 24,5 tahun bagi laki-laki. Bagi perempuan, usia median hubungan pertama adalah 23,3 tahun di wilayah perkotaan dan 19,1 tahun di wilayah pedesaan. Tiga puluh persen perempuan usia 15–19 tahun pernah hamil atau telah menjadi ibu. Angka-angka ini tidak menentukan hubungan seseorang, tetapi menunjukkan pentingnya memperhatikan persetujuan, usia, dan perlindungan. Children’s Act 2011 melarang pernikahan anak di bawah usia 18 tahun. Bahan penelitian juga memuat ringkasan yang bertentangan tentang pengecualian adat pada usia 16 tahun dengan persetujuan orang tua atau wali; karena itu, hubungan yang melibatkan seseorang di bawah 18 tahun memerlukan nasihat hukum dan perlindungan yang cermat, bukan mengandalkan pengecualian tersebut. Hubungan poligini ada, tetapi tidak universal: 10% perempuan melaporkan suaminya memiliki istri lain, sedangkan 4% laki-laki melaporkan memiliki lebih dari satu istri. Pasangan mungkin perlu memperjelas harapan tentang eksklusivitas, istri lain, tempat tinggal, tanggung jawab keuangan, dan anak. Keluarga berencana dapat dibahas bersama atau secara terpisah. Dua puluh empat persen perempuan menikah menggunakan metode modern, sementara 33% memiliki kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi, baik untuk mengatur jarak kelahiran maupun membatasi jumlah kelahiran; kebutuhan belum terpenuhi mencapai 47% pada perempuan usia 15–19 tahun. Di antara pengguna keluarga berencana saat ini, 48% melaporkan keputusan dibuat bersama suami. Layanan Ministry of Health dan pusat kesehatan atau rumah sakit dapat menyediakan kondom laki-laki dan perempuan, kontrasepsi, tes HIV dan konseling yang dikenal sebagai VCT, penanganan IMS, tes sifilis, profilaksis pascapajanan yang dikenal sebagai PEP, pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak yang dikenal sebagai PMTCT, tes kehamilan, dan keluarga berencana. Ketersediaan, akses fasilitas, dan biaya pribadi berbeda menurut county serta lokasi perkotaan atau pedesaan. Persetujuan berlaku untuk aktivitas seksual dalam hubungan, termasuk pernikahan. Pemerkosaan, termasuk pemerkosaan oleh pasangan atau dalam pernikahan, merupakan tindak pidana. Domestic Violence Act 2019 mencakup kekerasan fisik, seksual, ekonomi, emosional, verbal, dan psikologis, serta intimidasi, pelecehan, dan pemaksaan. Survei 2019–20 melaporkan kekerasan fisik terhadap 60% perempuan usia 15–49 tahun, kekerasan seksual terhadap 9%, dan kekerasan pasangan secara emosional, fisik, atau seksual terhadap 55% perempuan yang pernah menikah. Sedikitnya satu alasan untuk menerima pemukulan terhadap istri dilaporkan oleh 37% perempuan dan 25% laki-laki. Empat puluh dua persen orang yang mengalami kekerasan melaporkan tidak mencari bantuan; mereka yang mencari bantuan sering menghubungi keluarga sendiri atau keluarga pasangan, sedangkan hanya 6% melaporkan pergi ke polisi. GBV 116, yang dioperasikan melalui Ministry of Gender, Children and Social Protection, adalah saluran bantuan bebas pulsa. Rujukan kekerasan seksual dan berbasis gender dapat melibatkan One Stop Centers, County Gender Coordinators, fasilitas kesehatan, polisi, serta penyedia layanan hukum atau psikososial. Piagam layanan MGCSP menyebutkan layanan gratis dan diupayakan tersedia dalam 72 jam, termasuk pemeriksaan pemerkosaan, dukungan trauma, dan rujukan. Jika ada bahaya langsung, perawatan medis mendesak dan tempat aman harus didahulukan daripada mediasi hubungan. Tidak ada prosedur berpacaran atau putus hubungan formal nasional yang terbukti tersedia di Liberia. Pendaftaran pernikahan dilaporkan diwajibkan; pernikahan sipil atau berbasis agama ditangani oleh Centre for National Documents and Records Agency atau National Archive, sedangkan pernikahan adat ditangani Ministry of Internal Affairs. Sertifikat diterbitkan pada acara pernikahan dan biayanya berbeda menurut jenis pernikahan. Karena itu, pengakuan praktis suatu hubungan dapat berbeda jika hubungan itu informal, adat, berbasis agama, atau terdokumentasi secara formal. Laporan tahun 2023 menyebutkan kriminalisasi hubungan sesama jenis yang konsensual, tidak adanya pengakuan atas pasangan atau keluarga LGBTQI+, serta stigma dan hambatan pelaporan yang besar. United Nations mendokumentasikan rancangan Anti-Homosexuality Bill pada 2024; posisi hukum terkini perlu diperiksa sebelum mengandalkan jalur hubungan formal apa pun. Dukungan hubungan, saluran berkenalan, dan layanan putus hubungan tidak memiliki padanan formal nasional yang jelas dan terbukti, sehingga akses dapat bergantung pada keluarga tepercaya, jaringan komunitas, layanan kesehatan, atau penyedia khusus.
Hubungan romantis di Liberia
Hubungan romantis di Liberia umumnya bersifat informal dan dapat berupa berpacaran, tinggal bersama, atau menikah. Tidak ada sistem pendaftaran nasional untuk hubungan pacaran atau kemitraan yang terbukti tersedia; catatan resmi biasanya membedakan orang yang menikah, tinggal bersama, bercerai atau berpisah, dan menjanda atau menduda. Persetujuan, perlindungan dari kekerasan, kesehatan seksual, dan status hukum pernikahan memengaruhi konsekuensi praktis hubungan.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

