Pulau-pulau utama dan pulau-pulau kecil Samoa memiliki ekosistem pegunungan dan hutan hujan, bentang lava, daerah aliran sungai, lahan basah, mangrove, hutan pesisir, terumbu karang, dan laut lepas. Upolu, Savai'i, Manono, dan Apolima masing-masing memiliki kawasan dengan pengaturan akses dan kebutuhan konservasi berbeda. Luas mangrove di Upolu dan Savai'i diperkirakan sekitar 374 hektare pada 2018. Ministry of Natural Resources and Environment (MNRE), khususnya Division of Environment and Conservation, mengoordinasikan taman nasional, keanekaragaman hayati daratan, keanekaragaman hayati laut, perencanaan, dan pemantauan. Ministry of Agriculture and Fisheries menangani tanggung jawab perikanan dan kehutanan, sedangkan Ministry of Women, Community and Social Development mendukung aturan desa. Fono desa, yang berarti dewan desa, pemilik adat, dan otoritas desa lainnya tetap berperan penting dalam pengelolaan sehari-hari. Fa'asamoa, sistem adat Samoa yang mencakup hubungan, tanggung jawab, dan praktik, membentuk cara banyak masyarakat mengelola sumber daya darat dan laut. Taman nasional dan cagar alam dilindungi oleh hukum nasional. Contohnya mencakup O Le Pupu Pu'e, Lake Lanoto'o, Mauga o Salafai, Cornwall Aopo-Asau/Masamasa-Falelima, Lata dan Malololelei Biodiversity Park, serta Falealupo Community Conservation Area, Vaipu Swamp Forest, dan kawasan Vailima atau Mount Vaea. State of the Environment 2023 melaporkan bahwa kawasan lindung daratan mencakup sekitar 782 kilometer persegi, atau 90 persen lokasi prioritas yang telah diidentifikasi. Rencana pengelolaan dan penegakan aturan belum dikembangkan secara merata di setiap lokasi. Kawasan konservasi masyarakat umumnya berada di bawah kepemilikan adat dan dikelola melalui aturan desa serta rencana konservasi. Cagar ikan masyarakat (CFR) membatasi atau mengendalikan penangkapan ikan di kawasan yang ditentukan. Kawasan perlindungan laut (MPA) menerapkan tingkat perlindungan berbeda, mulai dari kegiatan yang diizinkan hingga kegiatan yang memerlukan otorisasi atau dilarang. Samoa's Ocean Strategy 2020–2030 mendukung perlindungan laut dan pemanfaatan berkelanjutan yang terkoordinasi. Kerangka hukum laut yang diadopsi pada 2025 dan Executive Order bertanggal 15 April 2026 menetapkan jaringan sembilan MPA baru yang dilindungi penuh seluas sekitar 35.710,45 kilometer persegi, kira-kira 30 persen dari wilayah laut Samoa seluas 120.000 kilometer persegi. Tahap penegakan pertama dijadwalkan mulai 16 April 2027. Jaringan perlindungan mencakup Tumutumu, Toamoana, Ala-I'amanu, Usotuofe, Loto-i-toga, Agavale, Ae'a Savai'i, To'atugā, dan Alataua, selain perlindungan masyarakat pesisir yang sudah ada. Aturan suaka laut juga mencakup hiu, pari, penyu, dan mamalia laut. Samoa mencatat tingkat endemisme pulau yang tinggi. Informasi dasar mencakup 43 spesies burung menetap, delapan burung endemik, tiga spesies kelelawar buah, 21 spesies kupu-kupu, dan 11 spesies reptil, serta ikan karang, invertebrata, rumput laut, penyu, cetacea, hiu, dan pari. Manumea dan burung lain dengan sebaran terbatas bergantung pada habitat hutan yang sesuai. Tujuh belas spesies cetacea dan lima spesies penyu telah didokumentasikan. Central Biodiversity Monitoring System yang dikembangkan mulai 2026 dimaksudkan untuk meningkatkan pemantauan dan menyediakan dasbor publik, meskipun data berkala masih belum lengkap. Tekanan utama mencakup tikus invasif, burung jalak invasif, tumbuhan invasif seperti Merremia, patogen, hilangnya habitat, penangkapan ikan berlebihan, polusi, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan, pembangunan pesisir, erosi, dan kerusakan terumbu. Pemutihan karang, pengasaman laut, badai, dan kenaikan permukaan laut menambah tekanan gabungan pada ekosistem laut. Upaya spesies invasif Samoa mencakup rencana masyarakat, biosekuriti, dan deteksi dini, dengan kegiatan pemulihan di Nu'utele serta kawasan lindung dan daerah tangkapan air lainnya. Kenaikan permukaan laut dilaporkan sekitar 5,2 milimeter per tahun, dengan proyeksi sekitar 70–170 milimeter pada 2030 dan 400–870 milimeter pada 2090. Prospek 2026–2027 menggambarkan kondisi El Niño, curah hujan di bawah normal, suhu lebih tinggi, dan risiko kekeringan serta siklon yang meningkat. Rekreasi berbasis alam mencakup jalan kaki di hutan hujan dan pesisir, pendakian, berenang, air terjun, mengamati burung, snorkeling, dan menyelam. Banyak teluk, laguna, dan kawasan adat dimiliki desa, sehingga pengunjung perlu meminta izin dan memeriksa apakah ada biaya masuk lokal. Lokasi privat mungkin memerlukan pemesanan lebih awal. Daftar pengunjung yang dipublikasikan menyebut akses gratis ke O Le Pupu Pu'e dan Togitogiga pukul 07.00 sampai 18.00. Afu Aau tercantum dengan biaya SAT 10 untuk dewasa dan SAT 5 untuk anak-anak, Senin sampai Sabtu pukul 08.00 sampai 17.00, tanpa penjaga pantai dan tutup pada hari Minggu. Fuipisia tercantum dengan biaya SAT 10 untuk dewasa, SAT 5 untuk anak-anak, dan SAT 2 untuk anak di bawah sepuluh tahun. Mu Pagoa tercantum dengan biaya SAT 5 untuk dewasa, SAT 2 untuk anak-anak, dan SAT 10 untuk kendaraan. Falease'ela Liua le Vai o Sina berada di lahan privat dan perlu dipesan; kunjungan tercatat pada Selasa, Kamis, dan Sabtu, maksimum 12 orang, selama dua sampai lima jam, dengan biaya sekitar SAT 70–150. Biaya, jam buka, dan pengaturan desa dapat berubah menurut lokasi. National Parks and Reserves Act 1974 mengizinkan biaya masuk, pembatasan jam buka, dan penutupan sementara. Mengubah atau merusak fitur alam, mengambil flora atau bahan alam lain dari taman umumnya memerlukan otorisasi menteri, dan hewan domestik tidak boleh dibawa ke taman. Fisheries Management Act 2016 pasal 86 memungkinkan fono desa menetapkan aturan perikanan. Marine Wildlife Protection Regulations 2009 dan 2018 melarang penjualan komersial, perdagangan, impor, atau ekspor satwa laut yang dilindungi. Proyek pembangunan, infrastruktur, dan pesisir mungkin juga memerlukan persetujuan pembangunan atau penilaian dampak lingkungan. Kawasan alam mendukung pangan, pendapatan, air tawar, kehutanan, dan pariwisata, yang dapat menimbulkan konflik konservasi dengan pembangunan pesisir, infrastruktur, pertanian, perikanan, dan kewenangan adat. Karena itu, pendekatan Samoa memadukan aturan nasional dengan pengelolaan bersama masyarakat, bukan mengandalkan satu sistem akses yang seragam. Materi pendidikan MNRE, kegiatan kesadaran sekolah di Vailima National Reserve, dan target pendidikan laut dalam Ocean Strategy mendukung pemahaman publik, sedangkan proyek keberlanjutan masyarakat dan kemitraan penelitian menambah kapasitas lokal.
Alam di Samoa
Lingkungan alam Samoa mencakup pegunungan vulkanik, hutan hujan dan daerah aliran sungai, sungai dan air terjun, lahan basah, mangrove, padang lamun, terumbu karang tepi, dan laut lepas. Perlindungan menggabungkan taman nasional dan cagar alam dengan kawasan konservasi masyarakat (CCA), cagar perikanan, dan kawasan perlindungan laut; CCA adalah kawasan adat yang dikelola melalui aturan desa dan rencana konservasi. Alam juga mendukung ketahanan pangan, perikanan, air tawar, kehutanan, pariwisata, dan mata pencaharian masyarakat, sehingga akses dan pemanfaatan sering bergantung pada kewenangan lokal dan kepemilikan adat.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

