Untuk sejarah awal Burundi, sumber resmi yang sejauh ini ditelaah hanya memberikan urutan arkeologis yang terbatas. Sumber tersebut tidak menetapkan masa pendirian negara secara andal. Catatan pariwisata resmi menempatkan monarki terorganisasi sejak abad ke-15 dan penyatuan wilayah pada abad ke-18; arsip pemerintah Amerika Serikat mendokumentasikan kerajaan tersebut pada abad ke-16. Catatan-catatan ini mencerminkan tahapan penyampaian informasi yang berbeda dan tidak boleh digabungkan menjadi satu tanggal pendirian yang pasti. Dalam kerajaan, Mwami (raja) berada di pusat bentuk pemerintahan yang dipahami secara sakral. Ganwa atau Baganwa (kelompok aristokrat) membentuk lapisan bangsawan. Pertanian upeti dan penggembalaan antara lain dipengaruhi Ubugabire (hubungan patron-klien). Ritual tahunan Umuganuro menghubungkan sorgum, penaburan benih, dan tatanan kerajaan. Kirundi (bahasa Burundi), puisi pujian, silsilah, legenda, dan ritual mempertahankan berbagai penafsiran sejarah; Batimbo dan Banyagisaka meneruskan tradisi genderang kerajaan sebagai ahli ritual turun-temurun. Kediaman kerajaan di Gishora dan genderang sakral memperlihatkan hubungan antara kekuasaan, ritual, dan ingatan. Para misionaris dan penjelajah Eropa semakin banyak memasuki kawasan ini sejak pertengahan abad ke-19. Ekspansi Jerman dimulai pada 1890-an dan pemerintahan Jerman telah ada paling lambat pada 1899. Mwami Mwezi IV Gisabo melakukan perlawanan. Dalam Perjanjian Kiganda tanggal 6 Juni 1903, ia mengakui kedaulatan Jerman, tetapi mempertahankan sebagian kedudukan kerajaannya. Sumber berbeda mengenai tanggal awal pemerintahan Jerman; 1890, 1896, dan 1899 menandai tahapan ekspansi dan administrasi yang berbeda, bukan satu titik perubahan tunggal. Belgia menduduki Burundi pada 1916. Liga Bangsa-Bangsa meresmikan mandat atas Ruanda-Urundi pada 1923 atau 1924; setelah 1946, wilayah tersebut menjadi Wilayah Perwalian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pemerintahan Belgia menjalankan pemerintahan tidak langsung melalui struktur monarki dan aristokrasi yang telah ada. Praktik administrasi kolonial dan klasifikasi rasial berkontribusi pada munculnya narasi Hutu dan Tutsi yang saling bersaing tentang masa lalu. Persaingan partai meningkat sejak 1948. UPRONA menang pada 1961, tetapi Pangeran Louis Rwagasore dibunuh pada 13 Oktober 1961. Konstitusi pertama mulai berlaku pada 23 November 1961. Burundi merdeka sebagai monarki konstitusional pada 1 Juli 1962. Republik terbentuk setelah serangkaian krisis politik yang parah. Pierre Ngendandumwe dibunuh pada 15 Januari 1965. Mwambutsa IV digulingkan, Ntare V dilantik pada 8 Juli 1966, dan monarki dihapuskan di bawah Michel Micombero pada 28 November 1966. Hal ini menandai dimulainya Republik Pertama. Jean-Baptiste Bagaza mengambil alih kekuasaan setelah kudeta 1 November 1976 dan memimpin Republik Kedua. Pierre Buyoya melakukan kudeta pada 3 Agustus 1987. Kekerasan di Ntega dan Marangara pada 1988 mendorong reformasi politik baru; Piagam Persatuan Nasional disahkan pada 5 Februari 1991, dan pada 9 Maret 1992 penduduk memberikan suara mengenai peralihan ke sistem multipartai. Pada 1972, pemberontakan yang dipimpin Hutu diikuti oleh kekerasan negara berskala besar yang terutama berdampak pada Hutu dari kalangan elite politik dan sosial. Banyak orang terbunuh atau mengungsi; Raja Ntare V meninggal pada 29 April 1972. Penyebutan peristiwa ini masih diperdebatkan secara politik dan historis. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi serta Senat menggunakan klasifikasi genosida terhadap Bahutu (orang Hutu), sementara sumber dari proses perdamaian menekankan pembunuhan berulang terhadap berbagai kelompok penduduk dan menolak satu penjelasan sepihak tentang satu siklus kekerasan. Dalam pemilu multipartai pada 1 Juni 1993, FRODEBU di bawah Melchior Ndadaye menang. Ndadaye mulai menjabat pada 10 Juli dan dibunuh pada 21 Oktober; perang saudara kemudian terjadi. Cyprien Ntaryamira menjadi presiden pada Februari 1994 dan meninggal pada 6 April 1994 ketika pesawat yang membawanya bersama Presiden Rwanda Juvénal Habyarimana ditembak jatuh. Sylvestre Ntibantunganya kemudian menjabat sebagai presiden. Buyoya kembali berkuasa setelah kudeta 25 Juli 1996. Sanksi, konflik bersenjata, dan perundingan membentuk tahun-tahun berikutnya. Perundingan Arusha dimulai pada 21 Juni 1998; Perjanjian Arusha tentang Perdamaian dan Rekonsiliasi ditandatangani pada 28 Agustus 2000 di bawah mediasi regional dan dengan partisipasi Nelson Mandela. Proses perdamaian berlanjut melalui gencatan senjata menyeluruh antara pemerintah dan CNDD-FDD pada 16 November 2003, pengaturan pembagian kekuasaan pada 5 Agustus 2004, dan pengerahan ONUB mulai 1 Juni 2004. CNDD-FDD menang dalam pemilu tingkat komunal, parlemen, dan Senat pada 2005. Pierre Nkurunziza terpilih pada 19 Agustus dan dilantik pada 26 Agustus. FNL menyepakati gencatan senjata pada 7 September 2006; mandat Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi pada tahun-tahun berikutnya mengaitkan berakhirnya permusuhan perang saudara dengan 4 Desember 2008. Pemilu 2010 dan pencalonan ketiga Nkurunziza yang diperdebatkan pada 2015 kembali memicu krisis politik serius, termasuk percobaan kudeta, pembunuhan, represi, dan pengungsian. Menurut penilaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, amendemen konstitusi yang disetujui melalui referendum 18 Mei 2018 melemahkan kompromi Arusha dan menghapus penyebutan eksplisit terhadapnya. Pada tahun yang sama, mandat Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi diperluas dari periode 1 Juli 1962 hingga berakhirnya perjanjian menjadi periode 26 Februari 1885 hingga 4 Desember 2008. Angka sementara yang dikutip komisi mencakup 72.961 pernyataan, 100.024 orang terbunuh atau hilang, 4.163 kuburan massal, dan 21.671 orang yang diduga sebagai pelaku. Dalam pemilu presiden, parlemen, dan komunal pada 20 Mei 2020, Évariste Ndayishimiye memperoleh lebih dari 68 persen suara menurut hasil sementara. Setelah Nkurunziza meninggal pada 8 Juni, Ndayishimiye dilantik pada 18 Juni; peralihan kekuasaan berlangsung relatif tertib. Dalam pemilu parlemen 2025, CNDD-FDD memenangkan seluruh 100 kursi yang dipilih langsung. CNL dikecualikan dan menuduh adanya intimidasi, pemungutan suara paksa, serta penghitungan yang keliru. Karena itu, sejarah pemilu harus membedakan hasil resmi dari penilaian kelembagaan atau politik yang berbeda. Penelitian sejarah di Burundi melibatkan Museum Nasional Gitega, Perpustakaan Nasional dan Pusat Tradisi Lisan, perpustakaan dan arsip Universitas Burundi, kementerian yang bertanggung jawab atas kebudayaan, komisi nasional UNESCO, serta Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Museum Nasional didirikan pada 1955 dan menyimpan koleksi arkeologi dan etnografi; kompleks kerajaan hasil rekonstruksi menggambarkan bentuk pemerintahan masa lalu. Kediaman Gishora tercantum dalam Daftar Tentatif UNESCO, dan tari ritual genderang kerajaan telah menjadi bagian dari Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2014. Komisi terus melakukan penggalian dan restitusi; laporan resminya disampaikan kepada Parlemen pada 2026, menyebut peristiwa 1972 sebagai genosida terhadap Hutu, dan melaporkan penyelidikan atas kejahatan hingga 1976. Tidak ada satu sumber yang memberikan narasi menyeluruh yang disepakati semua pihak. Dokumen kolonial, negara, dan PBB, temuan dan benda arkeologis, tradisi lisan, kesaksian, cerita para penyintas, serta penyelidikan hak asasi manusia dari luar dapat berbeda dalam istilah, tanggung jawab, dan pembabakan waktu. Karena itu, pernyataan tentang kekerasan, ingatan, dan rekonsiliasi sebaiknya menyebutkan sumber, tanggal asal, posisi politik, dan dasar pembuktiannya bersama dengan isi sejarahnya.
Sejarah Burundi
Sejarah Burundi mencakup jejak arkeologis awal dan tradisi lisan, Kerajaan Burundi, masa kolonial Jerman dan Belgia, hingga republik masa kini. Kekerasan politik yang berulang, pengungsian, penafsiran sejarah Hutu dan Tutsi yang saling bersaing, serta upaya rekonsiliasi membentuk ingatan sejarah. Penilaian yang andal memerlukan kajian bersama atas sumber tertulis, arkeologi, ritual kerajaan, kesaksian, dan penyelidikan resmi.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

