Manajemen Risiko Bencana di Kiribati mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, peringatan, tanggap darurat segera, bantuan, dan pemulihan. Negara ini memiliki 33 pulau dan atol dataran rendah, dan sebagian besar daratannya berada di bawah dua meter di atas permukaan laut. Genangan pesisir, gelombang tinggi, gelombang badai, pasang purnama ekstrem, pasang perbani ekstrem, erosi pesisir, dan kenaikan muka laut dapat berdampak pada rumah, jalan, pasokan air, listrik, komunikasi, sekolah, klinik, pelabuhan, dan lapangan terbang. Variasi muka laut yang terkait dengan ENSO dan Madden-Julian Oscillation dapat mencapai sekitar 0,5 meter. Siklon tropis, cuaca ekstrem, hujan lebat, tsunami, kekeringan, kelangkaan air, intrusi air asin, kecelakaan maritim, tumpahan minyak, kebakaran, ledakan, dan kecelakaan pesawat juga dikenal sebagai bahaya. Wabah dapat diperlakukan sebagai bahaya bencana ketika melampaui kemampuan pengaturan normal, sedangkan penanganan penyakit tetap menjadi ranah sistem kesehatan. Disaster Risk Management and Climate Change Act 2019 dan National Disaster Risk Management Plan 2012 menjadi kerangka utama. Beretitenti dan Kabinet memegang tanggung jawab keseluruhan. Kiribati National Expert Group, yang dikenal sebagai KNEG, menyediakan koordinasi strategis dan teknis nasional, sementara kementerian utama menjalankan perencanaan, logistik, pelatihan, penilaian kebutuhan, koordinasi darurat, dan pengelolaan Disaster and Climate Change Rapid Response Fund. Rencana dan lembaga terdahulu mungkin menggunakan istilah NDRMC, NDRMO, National Disaster Management Office, NEOC, atau EOC. Disaster Controller mengoordinasikan tindakan nasional ketika persyaratan hukum untuk deklarasi terpenuhi. Dewan lokal menetapkan tugas kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bagi Island Disaster Committees atau, di Tarawa dan Kiritimati, Taskforces. Kelompok ini menyatukan polisi, layanan medis, air, ketahanan pangan, dan kesejahteraan sosial; otoritas formal; pemimpin tradisional; serta perwakilan perempuan, anak-anak, lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Wali kota tetap memiliki tanggung jawab kebencanaan lokal dan dapat bertindak ketika komunikasi nasional terputus. Maneaba, te buia, dan unimwane atau unaine dapat mendukung komunikasi masyarakat dan kewenangan lokal, tetapi peran mereka berjalan dalam kerangka respons nasional dan kepulauan. National Disaster Risk Management Plan menggunakan lima tahap kesiagaan: kesiagaan dari 48 hingga 24 jam sebelum peristiwa yang diperkirakan; siaga dari 24 hingga 12 jam; aktivasi dari 12 hingga 0 jam; tanggap dan bantuan dengan pemulihan awal setelah kejadian; serta pemulihan jangka panjang. Act 2019 juga membedakan insiden Level 1 yang ditangani oleh satu pulau atau kementerian, Level 2 yang melampaui kemampuan setempat atau berdampak pada beberapa sektor atau pulau, serta Level 3 yang melampaui kemampuan nasional dan memerlukan bantuan internasional. Kiribati Meteorological Service, atau KMS, menyediakan informasi cuaca, iklim, dan laut yang berwenang, termasuk prakiraan pasang ekstrem, siklon tropis, tsunami, dan kekeringan parah. Peringatan dapat disampaikan melalui Radio Kiribati, SMS dan pesan telepon, sirene polisi dan sistem pengeras suara publik, lonceng gereja, situs web, pembaruan radio dan Facebook, serta komunikasi khusus yang aksesibel atau multibahasa. KMS menyediakan saluran informasi bebas pulsa di 1055. Saat ada ancaman tsunami, guncangan kuat, gerakan air yang tidak biasa, atau surutnya air secara tiba-tiba mengharuskan orang segera bergerak ke daratan atau tempat aman yang telah direncanakan tanpa menunggu buletin. Peringatan resmi perlu diulang dan diperbarui; rencana peringatan yang diterbitkan menetapkan pembaruan tsunami setiap 30 menit dan buletin setiap jam. Kesiapsiagaan mencakup peningkatan kesadaran risiko masyarakat, latihan tahunan, staf terlatih dan berperlengkapan, persediaan bantuan yang ditempatkan sebelumnya, pusat evakuasi yang ditetapkan, standar tempat perlindungan yang menjaga keselamatan dan martabat, pengaturan kesinambungan usaha, rencana pulau, serta rencana kekeringan. Water Sector Operational Plan mendukung perencanaan menghadapi kekurangan air. Pusat evakuasi dapat berupa gedung umum, sekolah, gereja, dan maneaba. MISE menyiapkan tempat perlindungan, jalur evakuasi, transportasi, dan listrik darurat, sedangkan Kiribati Police Service melindungi orang, properti, dan persediaan bantuan. Gereja dan tempat perlindungan berbasis agama harus menerima orang terdampak tanpa diskriminasi agama. Sekolah dapat menahan murid di tempat sampai otoritas nasional atau pulau yang bertanggung jawab mengeluarkan instruksi untuk mengakhiri status siaga. Jalur evakuasi dan tempat aman berbeda menurut pulau, dan tidak ada satu jalur atau peta yang berlaku untuk seluruh wilayah Kiribati. Kiribati Police Service dan layanan pemadam kebakaran memberikan kepemimpinan tanggap darurat awal, sedangkan pusat koordinasi darurat mendukung pencarian dan penyelamatan, evakuasi medis, penilaian kerusakan dan kebutuhan, distribusi bantuan, serta pemeriksaan kondisi air, pangan, listrik, komunikasi, jalan, dan puing. MISE menangani infrastruktur, jalan, listrik, air, dan sanitasi. Ministry of Health and Medical Services melindungi pasien dan mendukung gizi, higiene, air aman, serta pengendalian wabah. Ministry of Foreign Affairs and Immigration membantu mengoordinasikan bantuan luar, dan Ministry of Internal Affairs mendukung komunikasi pulau. Kiribati Red Cross Society bertindak sebagai mitra pendukung, termasuk melalui dukungan IFRC. Bantuan kemanusiaan didasarkan pada kebutuhan, bukan penilaian kerugian rumah tangga. Tidak ada hak umum atas kompensasi pemerintah di Kiribati untuk kerusakan akibat bencana, ketidaknyamanan evakuasi, biaya pencegahan, atau kerja sukarela tanpa bayaran dalam kegiatan masyarakat. Kompensasi mungkin tersedia jika pihak swasta menyebabkan kerugian karena kelalaian atau jika terjadi cedera atau kematian yang memenuhi syarat selama tanggap darurat yang diminta pemerintah. Permohonan Community Disaster Fund biasanya diajukan melalui dewan lokal atau Office of Te Beretitenti dan perlu menunjukkan penduduk terdampak, kerusakan, bantuan yang diminta, serta bahan atau sumber daya yang diperlukan. Waktu pemrosesan bergantung pada insiden dan deklarasi apa pun. Sumbangan bantuan tanpa diminta tidak dianjurkan, sementara kemudahan bea cukai, visa, transportasi, dan telekomunikasi dapat diatur berdasarkan perjanjian siaga. Bencana Level 3 dapat memicu Deklarasi Bencana atas saran Menteri atau KNEG dan persetujuan Beretitenti atau Kabinet. Deklarasi tersebut menegaskan bahwa kemampuan nasional tidak mencukupi dan dapat meminta bantuan internasional. Deklarasi berakhir setelah tujuh hari kecuali diperpanjang. State of Public Emergency dapat memberi akses khusus terhadap anggaran, aset, personel, tenaga kerja, dan tanah serta memberlakukan pembatasan pergerakan. Keadaan ini biasanya berlangsung sampai sidang Maneaba ni Maungatabu berikutnya, kecuali dicabut atau diperpanjang. Relawan dari luar negeri memerlukan persetujuan lebih dahulu, dan relawan yang sudah berada di Kiribati harus mendaftar ke kementerian yang bertanggung jawab. Pemulihan mencakup bantuan segera, pembangunan kembali, dan pemulihan air, sanitasi, listrik, komunikasi, jalan, lapangan terbang, dermaga, tempat perlindungan, layanan kesehatan, serta keberlanjutan pendidikan. Otoritas perlu mencatat kerusakan dan pengeluaran, melakukan tinjauan setelah tindakan, dan mengurangi kerentanan dalam rencana serta anggaran berikutnya. Langkah membangun kembali dengan lebih baik mencakup peninggian lahan, desain struktur yang lebih kuat, perlindungan pesisir, penampungan air, desalinasi, serta perlindungan atau pemulihan mangrove, vegetasi pesisir, dan lamun. Pada 27 Maret 2025, MISE dan Kiribati National Drought Committee menyerahkan 20 unit desalinasi portabel tenaga surya. Proyek Whole-of-Islands UNDP mencakup lima pulau percontohan, menargetkan 17.500 orang, dan direncanakan berlangsung hingga 2030; cakupan proyek bukan jaminan layanan universal. Instruksi terkini perlu diperiksa melalui KMS, Radio Kiribati, dewan lokal, Island Disaster Committees, dan layanan darurat yang bertanggung jawab. Kiribati Police Service saat ini mencantumkan 188 sebagai nomor kontak, tetapi akses darurat dapat berbeda menurut layanan dan pulau.
Bencana di Kiribati
Kiribati menghadapi risiko bencana berupa banjir pesisir, erosi, kenaikan muka laut, pasang ekstrem, badai, tsunami, kekeringan, intrusi air asin, kebakaran, dan kecelakaan transportasi. Pengaturan kebencanaannya memadukan koordinasi nasional dengan dewan pulau, masyarakat, dan otoritas tradisional. Peringatan, evakuasi, bantuan, dan pemulihan perlu memperhitungkan 33 pulau dataran rendah serta sulitnya logistik ke pulau terluar.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

