Budaya Singapura berkembang melalui perdagangan regional, migrasi, pemerintahan kolonial, pemerintahan sendiri, kemerdekaan, dan hubungan yang terus berlangsung dengan Asia serta dunia yang lebih luas. Pengalaman-pengalaman ini membantu menjelaskan bahasa, komunitas, bangunan keagamaan, budaya makanan, lingkungan permukiman, lembaga, dan perayaan publik di negara ini. Warisan Melayu serta sejarah komunitas Tionghoa, India, Eurasia, dan komunitas lainnya semuanya berkontribusi pada lanskap budaya, sementara setiap keluarga dapat memiliki lebih dari satu latar budaya. Bahasa Inggris digunakan secara luas dalam kehidupan publik, pendidikan, dan dunia kerja, sementara bahasa Melayu, Mandarin, Tamil, bahasa yang digunakan di rumah, dialek, dan ragam bahasa Inggris lokal (Singlish) tetap menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Seseorang mungkin menggunakan bahasa atau gaya bicara yang berbeda dengan rekan kerja, kerabat, teman, atau anggota keluarga yang lebih tua. Praktik keagamaan juga beragam: agama Buddha, Kekristenan, Islam, agama Hindu, tradisi Tao, Sikhisme, kepercayaan lain, dan identitas nonreligius hidup berdampingan dalam negara sekuler. Tradisi dapat bersifat keagamaan, berbasis keluarga, berbasis komunitas, atau nasional. Festival seperti Tahun Baru Imlek, Hari Raya Aidilfitri, Deepavali, Hari Vesak, dan Natal dapat melibatkan makanan, kunjungan, hiasan, doa, atau acara publik, tetapi keluarga tidak merayakannya dengan cara yang sama. Seni menambah lapisan lain melalui teater, musik, tari, tulisan, film, desain, karya visual, dan proyek komunitas di lingkungan permukiman maupun tempat-tempat formal. Budaya juga berubah sepanjang masa kanak-kanak, pendidikan, pekerjaan, kehidupan keluarga, dan usia lanjut. Sekolah, tempat kerja, perumahan umum, pusat jajanan (hawker centres), transportasi, dan ruang komunitas mempertemukan orang-orang dengan bahasa, agama, usia, dan sejarah keluarga yang berbeda secara teratur. Partisipasi yang penuh hormat berarti mengamati situasi, mengikuti aturan yang dinyatakan, meminta izin sebelum memasuki atau memotret kegiatan sakral atau pribadi, serta menghindari asumsi berdasarkan penampilan atau latar belakang seseorang.
Budaya di Singapura
Budaya di Singapura dibentuk oleh sejarahnya sebagai pelabuhan perdagangan, penduduknya yang multibahasa dan beragam agama, serta kehidupannya sebagai kota modern yang padat. Budaya ini tampak dalam kehidupan keluarga, bahasa, makanan, ibadah, festival, seni, sekolah, tempat kerja, perumahan umum, dan ruang publik bersama. Orang-orang dapat berbagi konteks nasional yang sama sambil menjalankan tradisi dengan cara berbeda, sehingga budaya Singapura paling tepat dipahami sebagai pengalaman yang saling tumpang tindih, bukan satu cara hidup yang tetap.
VivAVia dapat membuat kesalahan. Periksa informasi penting.

